Media sosial telah menjadi ruang utama tumbuh kembang generasi muda. Dari belajar, mencari hiburan, membangun pertemanan, hingga membentuk identitas diri, semua berlangsung di layar ponsel. Namun di balik kemudahan dan kebebasan itu, muncul ancaman serius yang kerap luput dari perhatian: paparan radikalisme digital. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kembali mengingatkan bahwa anak dan remaja kini menjadi kelompok paling rentan terpapar paham radikal melalui media sosial.
Peringatan ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, pola penyebaran radikalisme telah bergeser drastis. Jika sebelumnya perekrutan dilakukan secara tertutup dan tatap muka, kini proses tersebut berlangsung terbuka, masif, dan sering kali tersamar dalam konten digital yang terlihat “biasa saja”. Anak-anak dan remaja yang masih dalam fase pencarian jati diri menjadi sasaran empuk.
Artikel ini membahas secara mendalam peringatan BNPT terkait radikalisme di media sosial, bagaimana pola penyebarannya menyasar anak, mengapa generasi muda rentan, serta apa yang bisa dilakukan oleh sekolah, orang tua, dan negara untuk mencegah ancaman ini sejak dini.
Radikalisme Digital: Wajah Baru Ancaman Lama
Radikalisme bukan fenomena baru, tetapi medium penyebarannya terus berevolusi. Media sosial memberi ruang luas bagi kelompok radikal untuk menyebarkan ideologi tanpa harus berhadapan langsung dengan aparat atau masyarakat.
Konten radikal tidak selalu tampil dalam bentuk ajakan kekerasan. Justru sebaliknya, banyak disamarkan dalam narasi ketidakadilan, solidaritas kelompok, kritik sosial, atau bahkan konten motivasi. Anak-anak yang belum memiliki filter kritis sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang digiring ke pola pikir ekstrem.
BNPT menilai bahwa algoritma media sosial memperparah situasi. Sistem rekomendasi yang mendorong konten serupa membuat pengguna muda terjebak dalam ruang gema digital. Sekali mengklik satu konten ekstrem, algoritma akan terus menyajikan konten dengan narasi sejenis.
Anak dan Remaja sebagai Target Utama
BNPT menegaskan bahwa anak dan remaja menjadi target strategis kelompok radikal. Alasannya sederhana namun mengkhawatirkan: generasi muda sedang membentuk identitas, emosi mereka belum stabil, dan rasa ingin tahu mereka tinggi.
Di usia sekolah, anak mulai mempertanyakan nilai, keadilan, dan peran mereka di dunia. Ketika mereka menemukan konten yang menawarkan jawaban instan, rasa memiliki, dan identitas kelompok, mereka mudah tertarik.
Kelompok radikal memanfaatkan kondisi ini dengan sangat rapi. Mereka membungkus ideologi ekstrem dalam bahasa yang sederhana, visual menarik, dan narasi emosional. Media sosial seperti TikTok, Instagram, Telegram, hingga platform gim online menjadi ruang distribusi yang efektif.
Pola Penyebaran yang Sulit Dideteksi
Salah satu tantangan terbesar dalam mencegah radikalisme digital adalah sulitnya mendeteksi kontennya. Tidak semua konten radikal melanggar aturan platform secara eksplisit.
Banyak akun menyebarkan pesan radikal lewat:
- Meme dan video pendek
- Cerita personal yang menyentuh emosi
- Diskusi ringan di kolom komentar
- Grup privat dengan akses terbatas
Anak-anak yang aktif di media sosial bisa terpapar tanpa sadar. Awalnya hanya menonton, lalu ikut berdiskusi, hingga akhirnya menginternalisasi narasi yang disajikan.
BNPT menilai bahwa radikalisme digital kini lebih bersifat gradual. Prosesnya tidak instan, tetapi perlahan membentuk cara berpikir dan sudut pandang.
Dampak Psikologis dan Sosial bagi Anak
Paparan radikalisme tidak hanya berbahaya dari sisi keamanan nasional, tetapi juga berdampak serius pada perkembangan psikologis anak. Anak yang terpapar ideologi ekstrem cenderung melihat dunia secara hitam-putih.
Mereka bisa mengalami:
- Penurunan empati terhadap kelompok lain
- Sikap eksklusif dan mudah menghakimi
- Perilaku agresif di ruang digital maupun nyata
- Konflik dengan keluarga dan lingkungan sekolah
Dalam jangka panjang, anak berisiko terisolasi secara sosial. Dunia mereka dipersempit oleh narasi “kami versus mereka” yang terus diperkuat oleh konten digital.
Peringatan BNPT dan Peran Negara
BNPT menekankan bahwa pencegahan radikalisme digital harus dimulai dari hulu. Negara tidak bisa hanya fokus pada penindakan setelah radikalisme berkembang menjadi tindakan kekerasan.
Peringatan BNPT menjadi sinyal penting bahwa:
- Radikalisme digital adalah ancaman nyata
- Anak membutuhkan perlindungan khusus di ruang digital
- Pencegahan harus melibatkan banyak pihak
BNPT mendorong pendekatan yang lebih lunak dan preventif, termasuk edukasi literasi digital, penguatan nilai kebangsaan, dan peningkatan ketahanan keluarga.
Sekolah sebagai Garda Depan Pencegahan
Sekolah memiliki peran strategis dalam mendeteksi dan mencegah paparan radikalisme sejak dini. Lingkungan sekolah adalah tempat anak menghabiskan sebagian besar waktunya, sekaligus ruang pembentukan karakter.
BNPT mendorong sekolah untuk:
- Mengintegrasikan literasi digital dalam kurikulum
- Membahas isu radikalisme secara kontekstual dan terbuka
- Melatih guru mengenali tanda-tanda perubahan perilaku siswa
- Menciptakan ruang dialog yang aman bagi siswa
Pendidikan yang menekankan berpikir kritis dan toleransi menjadi benteng penting melawan narasi ekstrem.
Tantangan Guru dan Tenaga Pendidik
Meski peran sekolah krusial, tantangannya tidak kecil. Banyak guru merasa belum siap menghadapi isu radikalisme digital. Perkembangan teknologi dan platform digital sering kali lebih cepat dari kemampuan adaptasi sistem pendidikan.
Beberapa kendala yang dihadapi guru antara lain:
- Kurangnya pelatihan khusus
- Minimnya panduan praktis
- Kekhawatiran salah langkah dalam membahas isu sensitif
BNPT dan instansi terkait perlu memastikan bahwa tenaga pendidik mendapat dukungan yang memadai, baik dari sisi pengetahuan maupun kebijakan.
Orang Tua dan Ketahanan Keluarga
Peringatan BNPT juga menyoroti peran krusial keluarga. Orang tua adalah filter pertama bagi anak dalam dunia digital, meski sering kali peran ini tidak dijalankan secara optimal.
Banyak orang tua tidak mengetahui konten apa yang dikonsumsi anak mereka. Ada yang terlalu permisif, ada pula yang terlalu represif. Keduanya sama-sama berisiko.
Pendekatan yang dianjurkan adalah komunikasi terbuka. Orang tua perlu:
- Menjadi pendengar, bukan hanya pengawas
- Memahami dunia digital anak
- Mengajarkan nilai kritis dan empati
- Membangun kepercayaan agar anak berani bercerita
Ketahanan keluarga menjadi fondasi utama dalam mencegah anak terjerumus pada paham radikal.
Media Sosial dan Tanggung Jawab Platform
Radikalisme digital tidak bisa dilepaskan dari peran platform media sosial. Algoritma yang mengejar engagement sering kali tidak mempertimbangkan dampak sosial jangka panjang.
BNPT mendorong kerja sama dengan platform digital untuk:
- Memperketat moderasi konten ekstrem
- Mengembangkan sistem pelaporan yang ramah anak
- Menyediakan konten tandingan yang positif
Namun, regulasi saja tidak cukup tanpa kesadaran pengguna. Anak perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi secara mandiri.
Literasi Digital sebagai Benteng Utama
Literasi digital menjadi kunci utama pencegahan radikalisme di media sosial. Anak perlu diajarkan bahwa tidak semua konten di internet netral atau benar.
Literasi digital mencakup:
- Kemampuan mengevaluasi sumber informasi
- Kesadaran akan manipulasi emosi
- Pemahaman tentang algoritma
- Etika berinteraksi di ruang digital
BNPT menekankan bahwa literasi digital bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi juga pendidikan karakter.
Kolaborasi Lintas Sektor
Pencegahan radikalisme digital tidak bisa dibebankan pada satu institusi. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan:
- Pemerintah
- Sekolah
- Keluarga
- Komunitas
- Platform digital
Pendekatan kolektif memungkinkan deteksi dini yang lebih efektif dan respons yang lebih manusiawi.
Masa Depan Pencegahan Radikalisme Digital
Peringatan BNPT adalah pengingat bahwa ancaman radikalisme kini hadir di ruang yang paling dekat dengan anak: ponsel mereka. Dunia digital tidak bisa dihindari, tetapi bisa dikelola.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan perlindungan anak. Negara perlu hadir tanpa bersikap represif, sementara masyarakat perlu lebih sadar dan peduli.
Generasi muda adalah aset masa depan. Melindungi mereka dari radikalisme digital bukan hanya soal keamanan, tetapi juga soal kemanusiaan dan keberlanjutan bangsa.
Kesimpulan: Melindungi Anak di Era Ancaman Tak Kasat Mata
BNPT telah memberi peringatan yang jelas: radikalisme digital mengintai anak dan remaja melalui media sosial. Ancaman ini tidak selalu terlihat, tidak selalu keras, dan sering kali menyamar sebagai kebenaran alternatif.
Pencegahan harus dimulai sejak dini melalui literasi digital, pendidikan karakter, komunikasi keluarga, dan kolaborasi semua pihak. Anak tidak cukup hanya dilarang, tetapi harus dipahamkan.
Di era digital, melindungi anak berarti hadir di dunia mereka, memahami bahasa mereka, dan membekali mereka dengan kemampuan berpikir kritis. Karena masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh nilai yang tumbuh di generasi mudanya.

