Misinformasi, kebencian gender, dan ekstremisme tidak lagi menjadi permasalahan terpisah di dunia maya. Penelitian terbaru dari University of Melbourne menunjukkan hubungan yang kuat antara pandangan misoginis dan dukungan terhadap ekstremisme kekerasan di kalangan remaja, khususnya di Australia. Temuan ini tidak hanya membuka mata tentang kondisi yang mengkhawatirkan di sekolah dan komunitas online, tetapi juga memaksa kita memikirkan ulang cara pencegahan, pendidikan, dan perlindungan anak di era digital yang serba cepat berubah. Adelaide Now
Di balik statistik yang mengagetkan, ada narasi sosial yang lebih besar: bagaimana budaya digital, norma gender yang terdistorsi, dan pola radikalisasi online saling memperkuat hingga menciptakan pola pikir yang berbahaya bagi generasi muda. Artikel ini akan membahas secara mendalam temuan studi tersebut, penyebab akar masalah, dampak sosialnya, serta strategi penanganan yang perlu dipertimbangkan oleh keluarga, sekolah, dan pembuat kebijakan.
Temuan Inti: Misogini sebagai Indikator Radikalisasi
Studi yang dirilis pada awal Januari 2026 mengungkapkan bahwa lebih dari sepertiga remaja laki-laki Australia berusia 13–17 tahun menunjukkan pandangan yang misoginis, dengan mayoritas memiliki setidaknya satu bentuk sikap gender yang merendahkan perempuan. Adelaide Now
Lebih dari itu, temuan utama dari penelitian ini adalah hubungan signifikan antara pandangan misoginis dengan dukungan terhadap ideologi ekstremis, termasuk ekstremisme kekerasan, supremasi kulit putih, paham anti-feminis, dan bahkan simpati terhadap koridor kekerasan radikal seperti insiden teror. Adelaide Now
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Mereka menunjukkan bahwa misogini bukan hanya masalah gender atau sosial semata, tetapi bagian dari spektrum perilaku dan pemikiran yang bisa berujung pada tindakan ekstrem dan kekerasan jika dibiarkan tanpa intervensi pendidikan dan dukungan yang kuat. Adelaide Now
Bagaimana Penelitian Dilakukan?
Penelitian ini menyurvei lebih dari 1100 remaja berusia 13–17 tahun dan sekitar 2300 orang dewasa untuk mengidentifikasi hubungan antara sikap gender, pandangan ekstremis, dan niat kekerasan. Responden diminta menanggapi berbagai pernyataan tentang kekerasan, peran gender, dan ideologi politik. Adelaide Now
Pertanyaan dalam survei mencakup klaim-klaim kontroversial terkait kekerasan, stereotip gender, serta dukungan terhadap kekerasan sebagai alat perubahan. Melalui skala ini, para peneliti mampu mengukur tingkat dukungan terhadap berbagai ideologi ekstremis serta sikap misoginis. Adelaide Now
Misogini Bukan Sekadar Gender Bias
Satu hal yang benar-benar mengejutkan adalah seberapa banyak bentuk misogini yang terdeteksi. Lebih dari 40 persen remaja laki-laki yang disurvei mengungkapkan ketidakpercayaan terhadap perempuan, sementara hampir 30 persen meremehkan kekerasan terhadap perempuan. Adelaide Now
Tingkat keyakinan ini naik jauh di atas sekadar pandangan stereotip — ia terhubung langsung dengan ideologi yang lebih luas tentang dominasi, hierarki sosial, dan peran kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Ini berarti bahwa pandangan misoginis bisa menjadi pintu gerbang ideologi ekstremis yang lebih besar, bukan hanya soal gender. Adelaide Now
Tidak hanya Laki-Laki: Misogini juga Menyentuh Remaja Perempuan
Salah satu temuan yang makin mengkhawatirkan adalah bahwa hampir 27 persen remaja perempuan juga menunjukkan pandangan misoginis terhadap kaum perempuan lainnya. Adelaide Now
Penemuan ini menunjukkan bahwa misogini tidak hanya dipelajari oleh laki-laki, tetapi juga internalisasi narasi ini oleh perempuan itu sendiri. Melalui mekanisme budaya media, pornografi, atau representasi gender yang salah, banyak remaja perempuan justru menyerap dan mempraktikkan norma yang merendahkan gender mereka sendiri. Adelaide Now
Faktor Sosial dan Digital dalam Radikalisasi
Penelitian ini menyoroti beberapa faktor yang memperkuat hubungan antara misogini dan ekstremisme:
1. Pengaruh Konten Online dan “Manfluencers”
Konten di media sosial yang diproduksi oleh figur-figur internet yang mempromosikan versi beracun dari maskulinitas — sering disebut “manfluencers” — menjadi salah satu faktor yang memperkuat narasi misoginis di kalangan remaja. Adelaide Now
Sebagai contoh, figur-figur kontroversial seperti Andrew Tate telah diidentifikasi dalam studi lain sebagai sumber konten berbahaya yang memengaruhi pandangan gender anak muda. Paparan terhadap konten seperti ini meningkatkan kemungkinan adopsi sikap seksis yang kemudian dapat menjadi bagian dari narasi ekstremis yang lebih luas. Wikipedia
2. Normalisasi Kekerasan dan Kekuasaan
Misogini tidak berdiri sendiri; sering kali ia disertai dengan keyakinan bahwa kekerasan adalah cara yang sah untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Hal ini mempermudah pergeseran ke sikap ekstremis yang mendukung kekerasan. Adelaide Now
3. Normalisasi Gender Stereotip yang Kuat
Narasi yang menyalahkan feminisme, meremehkan kekerasan terhadap perempuan, atau memperkuat ide bahwa gender menentukan hak dan status sosial menciptakan pondasi yang sama dengan banyak ideologi ekstremis yang lain. Adelaide Now
Dampaknya pada Sekolah dan Lingkungan Pendidikan
Temuan lain yang terkait adalah laporan dari pendidik yang melihat sikap misoginis yang meningkat di dalam sekolah. Guru-guru mendapati komentar seksis, ancaman verbal, dan perilaku yang merendahkan terhadap guru perempuan dan siswa lain. Adelaide Now
Beberapa perilaku siswa bahkan melampaui sekadar komentar tidak pantas dan mengarah pada intimidasi berbasis gender dan pelecehan, yang menunjukkan bahwa misogini dapat merusak suasana belajar bagi seluruh komunitas sekolah. Adelaide Now
Risiko Politisasi dan Integrasi Ekstremisme
Hubungan antara misogini dan ekstremisme memberikan wawasan baru tentang bagaimana ideologi radikal tumbuh di komunitas muda. Misogini tidak berdiri sebagai fenomena tunggal, tetapi sering kali terintegrasi dengan narasi ekstremis lainnya — seperti supremasi ras, anti-feminis, dan gerakan kekerasan lain yang saling memperkuat. Adelaide Now
Studi dan laporan keamanan nasional di Australia menunjukkan bahwa paparan konten ekstrem di internet dapat mempercepat radikalisasi, terutama ketika dikombinasikan dengan kehilangan identitas sosial atau rasa tak berdaya di dunia nyata. GNET
Tanda Bahaya yang Harus Dipahami
Salah satu poin penting dari studi ini adalah bahwa misogini dapat berfungsi sebagai tanda peringatan dini radikalisasi. Ketika seorang remaja mulai menunjukkan pandangan ekstrem tentang gender dan kekerasan, hal ini bisa menjadi indikator awal bahwa ia juga rentan terhadap narasi radikal lain yang lebih berbahaya. Adelaide Now
Dengan mengetahui tanda-tanda ini lebih awal, keluarga dan institusi pendidikan dapat mengambil langkah pencegahan lebih efektif daripada menunggu perilaku tersebut berkembang menjadi aksi nyata. Adelaide Now
Tantangan di Era Digital
Era digital membuat proses radikalisasi jauh lebih cepat dan tersembunyi. Algoritma media sosial yang menampilkan konten yang memicu emosi dan keterlibatan sering kali memperkuat sikap ekstremis tanpa disadari pengguna.
Remaja, yang secara sosial dan emosional masih dalam fase pembentukan identitas, memiliki risiko tinggi terseret oleh narasi ini jika tidak ada pemahaman kritis terhadap konten yang mereka konsumsi. GNET
Apa yang Bisa Dilakukan?
Mengurangi hubungan antara misogini dan radikalisasi membutuhkan pendekatan multipihak:
1. Pendidikan Literasi Emosional dan Digital
Sekolah perlu memasukkan kurikulum yang membahas keterampilan berpikir kritis, empati, dan perilaku digital sehat.
2. Pelatihan bagi Orang Tua dan Pendidik
Orang tua dan guru perlu dilatih untuk mengenali tanda-tanda awal pandangan ekstremis, termasuk narasi misoginis yang tampak “normal” di media sosial.
3. Program Pencegahan Komunitas
Pendekatan komunitas yang melibatkan organisasi sosial dapat membantu remaja menemukan ruang aman untuk berdiskusi tentang identitas, konflik, dan tekanan sosial tanpa bergantung pada narasi berbahaya. PM&C
Kesimpulan: Misogini dan Radikalisasi — Dua Sisi Mata Uang yang Sama
Studi terbaru ini mengingatkan bahwa masalah sosial modern sering bersifat kompleks dan terintegrasi. Misogini bukan hanya tentang bias gender, tetapi bisa menjadi komponen utama dalam narasi ekstremis yang lebih luas, terutama di kalangan remaja. Adelaide Now
Kesadaran, pendidikan, dan pencegahan dini menjadi kunci untuk memutus jalur radikalisasi yang dimulai dari sikap merendahkan gender. Ketika keluarga, sekolah, dan masyarakat mulai mengatasi akar masalah ini bersama-sama, kemungkinan besar kita bisa mempersempit ruang bagi ideologi berbahaya untuk berkembang di dalam generasi berikutnya. Adelaide Now

